Pengajian Meresahkan Warga

Pelapor: “Pak Polisi, di daerah kami ada pengajian Salafy. Tolong dibubarkan karena meresahkan warga.”

Polisi: “Meresahkan gimana? Memang mereka nyetel musik nyaring2?”

Pelapor: “Gak Pak. Kata mereka musik itu haram.”

Polisi: “Terus? Oh, saya tahu. Pasti mereka ngajak demo ya?”

Pelapor: “Gak Pak. Kata mereka kita harus ta’at pada pemerintah Muslim.”

Polisi: “Atau tawuran?”

Pelapor: “Gak Pak. Mereka bilang haram mengacungkan senjata ke orang Islam.”

Polisi: “Ngajakin ngebom ya?”

Pelapor: “Bukan juga, Pak. Katanya membunuh kafir non-Harby itu haram.”

Polisi: “Oooh. . . Pasti mereka lagi pesta sex?”

Pelapor: “Bapak jangan ngawur, wong wanitanya ada ruangan sendiri.”

Polisi: “Biasanya pengajian meresahkan itu karena dzikir berjamaahnya pake mikrofon?”

Pelapor: “Gak Pak. Kata mereka itu bid’ah!”

Polisi: “Apa suara kasidahan ibu2nya jelek?”

Pelapor: “Sudah saya bilang mereka gak suka nyanyi!”

Polisi: “Terus? Kenapa mesti saya bubarkan?”

Pelapor: “Karena begini, Pak. Karena mereka itu. . . . Karena. . . . Begini lho. . . . Hmmm. . . Apa ya?”

Polisi: “Bapak silahkan buat laporan yang jelas dulu. Allah berfirman, “La taqfu ma laysa laka bihi ‘ilm”. Jangan mengikuti apa yang kamu tidak tahu ilmunya.”

Pelapor: “Wah, ternyata bapak pinter agama, hafal ayat juga. Ikut kajian dimana, Pak?”

Polisi: “Kajian Salafy.

Artikel terkait:   Sambut baik rasa ketidak setujuan dari seseorang

Isi Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.