Ahlan, My Boys

Sungguh tidak diduga dan tidak dinyana, hari ini begitu membuat kami berbahagia dengan segala prosesnya. Yang terkadang di sela-sela saya termenung, saya tertawa sendiri, lahiran kok dirumah. Dan terkadang tertawa kecil sambil berpikir, wah, ternyata saya bisa juga yah menjadi maraji, dan kemudian dengan muka yang langsung plain gitu sambil memikirkan yang sudah terjadi.

Jam 2.30am Saya dibangunkan oleh istri, katanya sudah rutin kontraksinya, sambil beres-beres kemudian gosok gigi. Setelah itu dirasa sepertinya tidak memungkinkan lagi akhirnya saya keluar mencari mobil untuk mengantar ke klinik bersalin di Agrowisata, karena ke 3 anak saya lahir disana semua dan istri maunya disana, karena dokter sampai perawatnya wanita semua.

Sudah cari kemana-mana, sambil berpikir, masa sih pakai grab, jam seginih. Akhirnya sambil iseng telpon lah adik yang punya mobil ertiga. 2x gak diangkat, iseng lah telpon istrinya dengan maksud kalau gak diangkat nanti stop angkot aja di pinggir jalan seperti waktu mau lahiran anak pertama. Dan Alhamdulillah, ternyata diangkat telponnya sama istrinya adik, ya sekalian aja minta tolong tuk antar ke klinik bersalin. Dan akhirnya sambil menunggu beberapa menit di Pos depan, beberapa kali telpon ke istri sambil menanyakan situasi apakah masih bisa dikendalikan atau sudah diluar kendali.

Jam 4.00am Saya putuskan tuk kembali saja ke rumah sambil titip ke satpam, kalau nanti ada adik dengan mobil ertiga dengan nomor plat belakangnya KS kasih lewat. Dan beberapa menit saya dirumah, adik pun sudah sampai dan langsung deh naik menuju ke klinik bersalin dan ternyata…. Anak nomor 3 bangun dan terpaksa dibawa.

Setelah diperiksa di klinik bersalin katanya baru bukaan satu dan ditawari apakah mau tunggu disini atau mau pulang, dan tentu lah, kalau cowoks pikirnya selalu mengenai safety n facility, saya minta tuk tunggu dan ternyata istri malah gak mau, katanya baru bukaan satu dan masih lama, tapi saya tetap membujuk untuk menginap saja tapi sepertinya kalau sudah seperti ini sebagai cowoks ya harus sabar, jadinya kabulkan ajalah keinginan istri biar dia merasakan kenyamanannya sendiri.

Eh… eng ing eng… Masya Allah, Subhanallah, baru sampai rumah, dan adik pun sudah melaju dengan ertiga nya untuk pulang, ternyata istri sudah teriak-teriak kesakitan. Saya coba pesan grab dan 2x gak nyaut dan ke 3 kalinya, eh ada yang nangkap sinyal grab saya. Tapi kok, istri dah bilang bah… bah… bah… waduh, akhirnya saya telpon adik tuk minta antarkan lagi, siapa tau adik bisa lebih cepat sampainya dibandingkan grab. Akhirnya ya sudah, siapkan aja lah perlak dan selimut tuk jaga-jaga kalau emang nanti lahir beneran. Kok bisa yah… bisa gitu terlintas seperti itu ya, dan Alhamdulillah ternyata istri gak kuat kemudian saya suruh dia berbaring dan saya lihat ternyata kepala dede bayinya sudah nyembul.

Walah, kepriwe, tapi gak sempat gitu sih, muka ogut dah flat dan plain banget dah. Alhamdulillah di pandu dengan insting-insting aja, dan saya percaya kalau insting pun pastinya dari Allah. Ketika istri ngeden dikit, saya langsung tarik dede bayinya agar bisa langsung keluar. Dan Masya Allah, Allah berikan kemudahan untuk saya mengeluarkan dede bayinya dari rahim istri. Ketika dede bayinya sudah ada di tangan saya, dan mertua pun melihat, sontak akhirnya malah mertua yang panik, ya jadinya saya pun ikut panik, lah, anaknya digimanain ini, HAHAHA.

Alhamdulillah telah lahir anak kami yang ke 4 dengan nama Zachary pada 13 Rajab 1439 / 31 Maret 2018 pada pukul 04.00am di rumah kami yang baru saja kami tempati per bulan Februari 2018.

Ceritanya sambung lagi nanti deh, kali masih inget, xixixi, biasanya sih gak inget tapi semoga moment ini terpatri di otak saya, biasanya yang keingetan itu 10.0.7.1 atau ssh atau vim, xixixi, maklum, saya mah apa atuh, cuma IT Guy yang mencoba menuangkan hoby pada istrinya. HAHAHA.

Artikel terkait:   I Love My Wife

Isi Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.