KLoning Spoon

If you do not need fancy looking hijri calendar widget, or you want to style the calendar text by yourself, or you are a webmaster or a web developer that want to build your own hijri calendar web applications, then the following code may be of use.

The script (modified from Robert van Gent’s page) calculates approximate hijri dates from current computer’s date. It is based on arithmetical calculation to match the current moon phase. The calculation is based on 30-year lunar cycle where length of the lunar months is defined aternatingly as 29 or 30 days. Every two or three year an extra day is added at the end of the year to keep up with the phase of the moon. This formula is also similar to “Kuwaiti Algorithm” used by Microsoft to define Hijri Calendar dates.

 function gmod(n,m){ return ((n%m)+m)%m; } function kuwaiticalendar(adjust){ var today = new Date(); if(adjust) { adjustmili = 1000*60*60*24*adjust; todaymili = today.getTime()+adjustmili; today = new Date(todaymili); } day = today.getDate(); month = today.getMonth(); year = today.getFullYear(); m = month+1; y = year; if(m<3) { y -= 1; m += 12; } a = Math.floor(y/100.); b = 2-a+Math.floor(a/4.); if(y<1583) b = 0; if(y==1582) { if(m>10) b = -10; if(m==10) { b = 0; if(day>4) b = -10; } } jd = Math.floor(365.25*(y+4716))+Math.floor(30.6001*(m+1))+day+b-1524; b = 0; if(jd>2299160){ a = Math.floor((jd-1867216.25)/36524.25); b = 1+a-Math.floor(a/4.); } bb = jd+b+1524; cc = Math.floor((bb-122.1)/365.25); dd = Math.floor(365.25*cc); ee = Math.floor((bb-dd)/30.6001); day =(bb-dd)-Math.floor(30.6001*ee); month = ee-1; if(ee>13) { cc += 1; month = ee-13; } year = cc-4716; if(adjust) { wd = gmod(jd+1-adjust,7)+1; } else { wd = gmod(jd+1,7)+1; } iyear = 10631./30.; epochastro = 1948084; epochcivil = 1948085; shift1 = 8.01/60.; z = jd-epochastro; cyc = Math.floor(z/10631.); z = z-10631*cyc; j = Math.floor((z-shift1)/iyear); iy = 30*cyc+j; z = z-Math.floor(j*iyear+shift1); im = Math.floor((z+28.5001)/29.5); if(im==13) im = 12; id = z-Math.floor(29.5001*im-29); var myRes = new Array(8); myRes[0] = day; //calculated day (CE) myRes[1] = month-1; //calculated month (CE) myRes[2] = year; //calculated year (CE) myRes[3] = jd-1; //julian day number myRes[4] = wd-1; //weekday number myRes[5] = id; //islamic date myRes[6] = im-1; //islamic month myRes[7] = iy; //islamic year return myRes; } function writeIslamicDate(adjustment) { var wdNames = new Array("Ahad","Ithnin","Thulatha","Arbaa","Khams","Jumuah","Sabt"); var iMonthNames = new Array("Muharram","Safar","Rabi'ul Awwal","Rabi'ul Akhir", "Jumadal Ula","Jumadal Akhira","Rajab","Sha'ban", "Ramadan","Shawwal","Dhul Qa'ada","Dhul Hijja"); var iDate = kuwaiticalendar(adjustment); var outputIslamicDate = wdNames[iDate[4]] + ", " + iDate[5] + " " + iMonthNames[iDate[6]] + " " + iDate[7] + " AH"; return outputIslamicDate; } 

Download Script

Here is the javascript code as .js file: hijricalendar-kuwaiti.js

Example outputs

Below is example output of the above script (the writeIslamicDate function) without date adjustment:

The code:

 document.write(writeIslamicDate()); 

Below is with date adjustment of 1 (advanced one day):

The code:

 document.write(writeIslamicDate(1)); 
Hadirilah, kajian ilmiyah terbuka bagi kaum muslimin dan muslimat dan  ajaklah seluruh keluarga, sahabat dan karib kerabat anda bersama&#160;:
Narasumber: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr
Tema: Meniti Jalan Meraih Kecintaan Allah
Waktu: Ahad, 26 Rabi’ul Awwal 1433&#160;H / 19 Februari 2012&#160;M
Pukul: 09.00 WIB – Dzhuhur
Tempat: Masjid Istiqlal Jakarta Pusat
Informasi selanjutnya bisa menghubungi salah satu kontak kami.

Hadirilah, kajian ilmiyah terbuka bagi kaum muslimin dan muslimat dan ajaklah seluruh keluarga, sahabat dan karib kerabat anda bersama :

  • Narasumber: Syaikh Prof. Dr. Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr
  • Tema: Meniti Jalan Meraih Kecintaan Allah
  • Waktu: Ahad, 26 Rabi’ul Awwal 1433 H / 19 Februari 2012 M
  • Pukul: 09.00 WIB – Dzhuhur
  • Tempat: Masjid Istiqlal Jakarta Pusat

Informasi selanjutnya bisa menghubungi salah satu kontak kami.

FATWA MUI TENTANG SYI’AH
Majelis Ulama Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional
bulan Jumadil Akhir 1404 H/Maret 1984 M
merekomendasikan tentang faham Syi’ah sebagai
berikut:
Faham Syi’ah sebagai salah satu faham yang terdapat
dalam dunia Islam mempunyai perbedaan-perbedaan
pokok dengan mazhab Sunni (Ahlus Sunnah Wal
Jama’ah) yang dianut oleh Umat Islam Indonesia.
Perbedaan itu di antaranya :

1. Syi’ah menolak hadits yang tidak diriwayatkan oleh
Ahlul Bait, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah tidak
membeda-bedakan asalkan hadits itu memenuhi syarat
ilmu musthalah hadits.

2. Syi’ah memandang “Imam” itu ma ‘sum (orang suci),
sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah memandangnya
sebagai manusia biasa yang tidak luput dari kekhilafan
(kesalahan).

3. Syi’ah tidak mengakui Ijma’ tanpa adanya “Imam”,
sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ ah mengakui Ijma’
tanpa mensyaratkan ikut sertanya “Imam”.

4. Syi’ah memandang bahwa menegakkan
kepemimpinan/pemerintahan (imamah) adalah
termasuk rukun agama, sedangkan Sunni (Ahlus
Sunnah wal Jama’ah) memandang dari segi
kemaslahatan umum dengan tujuan keimamahan
adalah untuk menjamin dan melindungi dakwah dan
kepentingan umat.

5.Syi’ah pada umumnya tidak mengakui kekhalifahan
Abu Bakar As-Shiddiq, Umar Ibnul Khatthab, dan
Usman bin Affan, sedangkan Ahlus Sunnah wal Jama’ah
mengakui keempat Khulafa’ Rasyidin (Abu Bakar, Umar,
Usman dan Ali bin Abi Thalib).
Mengingat perbedaan-perbedaan pokok antara Syi’ah
dan Ahlus Sunnah wal Jama’ah seperti tersebut di atas,
terutama mengenai perbedaan tentang
“Imamah” (pemerintahan)”, Majelis Ulama Indonesia
mengimbau kepada umat Islam Indonesia yang
berfaham Ahlus Sunnah wal Jama’ah agar
meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan
masuknya faham yang didasarkan atas ajaran Syi’ah.

Ditetapkan di Jakarta, 7 Maret 1984 M (4 Jumadil Akhir
1404 H)
Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia
Prof. K.H. Ibrahim Hosen, LML
Ketua
H. Musytari Yusuf, LA
Sekretaris

Fatwa MUI PUSAT Tentang KESESATAN SYIAH

Umar bin Khathab berkata:

“Hendaklah berteman dengan kawan yang jujur..

Niscaya kamu akan hidup tenang bersama mereka..

Mereka adalah hiasan di waktu senang..

Dan hiburan di waktu susah..

Letakkanlah perkara teman pada tempat yang paling baik..

Sampai kamu merasa tidak mampu lagi..

Jauhilah musuhmu.. Waspadalah dari temanmu, kecuali yang amanah..

Dan teman yang amanah adalah yang takut kepada Allah..

Jangan bersahabat dengan orang jahat.. Karena kamu akan belajar dari kejahatannya..

Dan jangan curhat kepadanya.. Bermusyawarahlah dalam urusanmu dengan orang yang takut kepada Allah..

(Mukhtashar minhajul qashidin hal 124).